Aku Berani Berubah
CERMIN

Aku Berani Berubah

Cerpen Spesial di Hari Guru

Oleh : Salsa Nuraeni (Kelas 8-F SMPN 1 Cibalong)

RAGEM – “Haii, panggil saja aku Jeni,” gadis imut yang pernah merasa takut dengan keramaian itu mulai bertutur, Dulu ia lebih suka menyendiri, terlebih saat masih duduk di bangku TK.  

Jeni dianggap gadis aneh oleh orang di sekitarnya, mungkin karena ia lebih banyak diam. “Bisa dibilang diriku bodo amat dengan lingkungan sekitar, selagi itu tidak menggangu ku,” ujarnya.

Saat Jeni masih duduk di bangku sekolah dasar, orang lain menilainya sebagai gadis bodoh dan pemarah. “Yah mungkin karena aku tidak cukup pintar dalam hal pelajaran,” akunya.

“Tapi menurut guru ku,” kilah Jeni, “Aku adalah anak yang mudah memahami sesuatu,” akunya. “Hanya dengan satu penjelasan saja, aku bisa langsung memahami pelajaran,” tambahnya.

“Hahaha, ternyata aku masih punya kelebihan tohh.” gumamnya, seraya mengingat ingat peristiwa getir masa silam yang pernah dialaminya.

Saat duduk di kelas empat sekolah dasar, Jeni pernah dikucilkan oleh teman-teman kelasnya, Pasalnya, ungkap Jeni, waktu itu terjadi kesalah pahaman dengan teman sebangkunya.

“Bagaikan sebuah bom merusak segalanya, teman-teman sekelas pernah menjauhi ku,” kenangnya. Hal itu, tutur Jeni, diawali sebuah peristiwa yang membuatnya kesal dan sangat marah.

Saat pelajaran berlangsung Jeni terpaksa beradu mulut dengan teman sekelas, karena saat itu ia tidak mau maju ke depan kelas membaca buku.

Peristiwa seru tidak berhenti sampai disitu, Jeni semakin tak kuasa mengendalikan diri. Pertikaian berlanjut saling melempar buku.

Dengan sangat marah, Jeni pun pergi meninggalkan kelas. Bahkan ia  tidak sempat menghiraukan teguran guru yang sedang mengajar.

Ternyata peristiwa pilu itu terulang lagi saat Jeni duduk di bangku kelas lima. Ia di-bully oleh kakak kelasnya hingga Jeni merasa takut masuk sekolah.

“Karena takut bertemu kakak kelas, selama tiga hari aku bolos,” akunya, jujur. Saat ayah dan Ibunya bertanya pun, Jeni beralasan karena merasa malas saja.

Setelah kakak kelasnya lulus dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, Jeni merasa lega, kepercayaan dirinya pun mulai tumbuh.

Waktu terus berlalu, sampai akhirnya Jeni lulus dari sekolah dasar tempatnya menuntut ilmu dan memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama.

Namun, ternyata kakak kelas sewaktu di sekolah dasar yang sempat mem-bully-nya dulu, juga sekolah di tempat yang sama.

Awalnya ia merasa takut dan khawatir hingga hampir memutuskan untuk mendaftar di sekolah lain, meski jaraknya semakin jauh dari tempat tinggalnya.

Namun dirinya merasa heran, kakak kelas yang dulunya angkuh dan sempat mem-bully-nya itu berubah drastis, nampak menjadi pribadi yang lebih baik.

Seiring berjalannya waktu. Jeni mulai sadar, melalui lingkungan pendidikan yang baik ternyata mampu merubah karakter seseorang menjadi lebih baik pula.

Nampaknya, Jeni berpikir, perubahan perilaku kakak kelasnya pun merupakan buah pembinaan di sekolah impian tempat Jeni saat ini menggantungkan asa menggapai cita-cita.

Jeni merasa sangat bahagia, hidup dan belajar berdampingan tanpa kekerasan dan bully-an. Kepercayaan dirinya semakin tumbuh hingga perlahan ia mampu mengukir prestasi.

Kebahagiaan Jeni kian bertambah, dirinya merasa aman dan nyaman menuntut ilmu di sekolahnya saat ini, dibimbing para guru yang sangat peduli terhadap kemajuan peserta didik.

Terlebih tatkala kerap dibimbing sosok guru yang sangat mirip dengan ayahnya. “Cara bicara, postur tubuh dan pembawaanya mirip dengan ayahku,” tutur Jeni.

“Beliau dengan lemah lembut kerap memberi motivasi dan solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi,” tilai Jeni.

Sosok tersebut ternyata adalah Pak Rommy, guru PAI sekaligus Pembina ekskul Kerohanian di sekolahnya.

Menurut Jeni, sosok Pak Romy hampir tak pernah marah. Namun sekali bertindak tegas, semuanya terdiam dan murid muridnya patuh dan hormat kepadanya.

Berkat motivasi yang kerap disampaikan Pak Romy di setiap kesempatan, tutur Jeni membuat dirinya mau berubah, semakin  berani untuk tampil di depan umum menunjukkan kemampuan.

“Aku termotivasi untuk membuktikan bahwa aku bisa, aku bukan lagi gadis bodoh yang dulu sering di-bully,” tuturnya.

Berkat semangat juang seiring perubahan perilaku, akhir semester satu saatnya Jeni menerima raport. Baginya menjadi rangking tiga merupakan pencapaian awal yang sangat luar biasa. Sontak ia melakukan selebrasi melakukan sujud sukur.

“Alhamdulillah, saat kenaikan kelas di semester dua aku bisa pulang dengan langkah tegap menyerahkan raport kepada orang tua dengan nilai cukup bagus. Aku mendapatkan ranking dua,” ujarnya bangga.

Jelang penilaian akhir semester ganjil di kelas 8, Jeni bertekad menjadi yang terbaik di kelasnya dengan berupaya meningkatkan intesitas belajar. “Aku harus bisa menjadi juara kelas,” tekad Jeni.

Seiring bertambahnya usia, kepribadian Jeni pun semakin baik, ia tumbuh berkembang semakin bijak. Dalam memilih teman pun Jeni mulai selektif.

“Aku berteman dengan rekan yang memiliki kegemaran yang sama, yaitu menggandrungi musik pop dan suka membaca novel,” tuturnya.

Dari kelompok musik tertentu yang diidolakan, ia belajar untuk jadi diri sendiri. “Dari novel yang kerap dibaca banyak sekali pelajaran yang dapat kuambil,” tuturnya.

Bahkan, cita-cita Jeni ke depan pun terinspirasi dari novel yang pernah dibacanya. “Sejak saat itu aku sangat suka dengan menulis,” akunya.

Kegemarannya menulis pun kian menjadi-jadi terlebih mendapat support dari gurunya di tempatnya menggali ilmu. Melalui pembelajaran berdiferensiasi, sekolahnya memfasilitasi dengan wadah majalah dan website wahana karya ekskul jurnalistik.

Tak dinyana, saat ini Jeni tengah menyiapkan launching karya novel terbaiknya. “Berkat dorongan dan bimbingan guru-guruku tercinta di sekolah saat ini, aku mampu unjuk gigi,” ujarnya penuh semangat.

Cita-citanya menjadi penulis handal tengah dirintisnya, disamping berupaya mengasah kemampuan demi memuluskan keinginan lain untuk menjadi psikolog dan pengacara hebat yang dapat membantu banyak orang.

Untuk kawan-kawan seperjuangan, Jeni berpesan agar jangan takut memulai sesuatu. Jadilah diri sendiri, optimalkan potensi yang dimiliki. “Jangan biarkan ketakutanmu meguasai diri. Bangkitlah wahai kawan-kawanku,” ajak Jeni. (*)

Leave feedback about this

  • Quality
  • Price
  • Service

PROS

+
Add Field

CONS

+
Add Field
Choose Image
Choose Video